Free Shoutcast HostingRadio Stream Hosting

Respons Karhutla Kalimantan Lewat Seni Batik, Mahasiswa Pekalongan Gagas Karya “Doa Sang Enggang”

 

 

​Keprihatinan mendalam atas maraknya bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa wilayah Kalimantan dapat disuarakan melalui berbagai media ekspresi. Tak hanya lewat aksi unjuk rasa di jalanan, pesan kepedulian lingkungan dan kemanusiaan tersebut juga dapat disampaikannya secara anggun melalui helai kain batik bertajuk “Doa Sang Enggang” yang membubuhkan tulisan Pray for Kalimantan.

​Karya bernilai seni tinggi ini digagas oleh Roya Zahida A, seorang mahasiswa semester tiga dari Program Studi Kriya Batik Institut Teknologi Dan Sains Nahdlatul Ulama (ITS NU) Pekalongan. Dalam selendang batik berukuran 200 x 56 sentimeter tersebut, Roya mengangkat burung enggang yang merupakan satwa endemik ikonik yang menjadi simbol keagungan serta spiritualitas bagi masyarakat adat Dayak sebagai ornamen motif utama untuk memantik empati publik.

​Roya menceritakan bahwa ide pembuatan batik ini bermula dari penugasan akademis kampus yang mengangkat tema tradisi kepulauan di Nusantara. Ketika mendapatkan bagian wilayah Kalimantan, ia memutuskan untuk mengawinkannya dengan isu krusial bencana karhutla yang tengah hangat menjadi sorotan masyarakat luas.

​“Maraknya karhutla akhir-akhir ini sangat disuarakan masyarakat. Karena itu, saya sekalian mengangkat isu ini ke dalam karya,” ujar Roya saat ditemui di Pekalongan, Jumat (23/10/2026).

​Penciptaan motif burung enggang tersebut terinspirasi dari rekaman video yang memperlihatkan seekor burung enggang terpaksa hinggap di perahu milik warga lokal karena habitat aslinya telah habis terbakar. Fenomena memprihatinkan itu menyentuh sisi emosionalnya saat memikirkan nasib satwa-satwa liar yang kehilangan ruang hidup akibat terbakarnya hutan gambut.

​Visual keindahan selendang batik ini semakin kuat berkat sentuhan gaya kaligrafi pada tulisan Pray for Kalimantan serta paduan ornamen khas Dayak. Bagi Roya, perpaduan visual tersebut merupakan bentuk ajakan moral agar masyarakat tidak sekadar merasa iba, melainkan turut memanjatkan doa serta menggalang dukungan nyata bagi para korban dan lingkungan yang terdampak.

​Proses teknis perancangan “Doa Sang Enggang” memakan tahapan yang terbilang rumit dan presisi. Prosesnya dimulai dari pencarian filosofi motif, pembuatan sketsa awal di atas kain, penorehan lilin malam menggunakan canting, hingga teknik pewarnaan colet menggunakan kuas. Setelah dilapisi bahan penutup khusus, kain tersebut dicelupkan ke dalam pewarna latar dan diakhiri dengan proses lorod atau perebusan dalam air mendidih untuk meluruhkan malam.

​Meski pengerjaan batik tulis idealnya membutuhkan kurun waktu bulanan hingga tahunan, Roya mampu menyelesaikan seluruh proses rumit tersebut hanya dalam waktu satu pekan. Pencapaian ini kian berkesan karena ia menyelesaikannya di tengah kondisi kesehatan fisik yang kurang prima demi menuntaskan tanggung jawab perkuliahan.

​“Sangat menantang karena saat proses pembuatan saya dalam kondisi sakit. Tapi saya paksakan karena ini amanah tugas,” ungkapnya.

​Melalui perantara karya seni tradisional ini, Roya membuktikan bahwa kritik sosial serta pesan pelestarian alam dapat disampaikan secara estetis namun tetap menghujam sanubari. Ia berharap pesan dalam “Doa Sang Enggang” mampu menggerakkan kepedulian bersama untuk bahu-membahu menyelamatkan ekosistem hutan Kalimantan. (*fa)


Komentar

Posting Komentar