Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenalkan lima hasil riset untuk memperkuat industri batik, mulai dari malam batik berbahan limbah sawit, teknologi pengolahan limbah, hingga material pendeteksi keaslian batik. Inovasi tersebut diharapkan membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas produk sekaligus menghadapi persaingan dengan produk impor.
Lima inovasi itu diperkenalkan dalam kunjungan Kepala BRIN ke Kauman Batik Art Festival 2026 di Kampoeng Batik Kauman, Kota Pekalongan, Minggu (25/10/2026). Melalui stan pameran, BRIN memperlihatkan penerapan sains dan teknologi untuk menjawab berbagai tantangan dalam industri batik.
Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria mengatakan, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu misi lembaganya. Batik dinilai sebagai sektor potensial yang perlu didukung melalui riset dan inovasi agar mampu berkembang secara berkelanjutan.
“Batik pun meskipun ini dikelola oleh UMKM, harus diperkuat dengan teknologi, diperkuat oleh sains, dan tugas BRIN adalah memperkuat sisi teknologinya agar batik Pekalongan dan batik-batik di Indonesia ini benar-benar semakin survive di tengah gempuran produk-produk impor,” ujarnya.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Biopas, yakni malam batik yang dibuat dari limbah sawit. Material ini dikembangkan sebagai alternatif malam batik yang lebih ramah lingkungan. Menurut Arif inovasi tersebut juga memiliki kualitas yang lebih baik dan berpotensi menjadi material untuk produksi batik ke depan.
Inovasi kedua adalah teknologi radiasi gamma untuk menangani persoalan limbah batik. Teknologi tersebut disebut telah diterapkan di Pekalongan sejak 2021 sebagai bagian dari upaya pengolahan limbah yang dihasilkan industri batik.
Selanjutnya, BRIN mengenalkan Ecowastra, inovasi pewarna alami yang dibuat dari bahan seperti ketapang, secang, dan mangrove. Penggunaan pewarna alami ini diharapkan dapat mengurangi risiko pencemaran dari bahan kimia dalam proses produksi batik.
Menurut Arif, kain yang dihasilkan melalui inovasi tersebut juga memiliki karakteristik tambahan berupa perlindungan terhadap sinar ultraviolet (UV) dan sifat antibakteri.
Inovasi keempat berupa pengembangan material tekstil dari serat daun nanas. Material tersebut menjadi salah satu alternatif bahan tekstil berbasis serat alami yang dikembangkan melalui riset BRIN.
Adapun inovasi kelima adalah carbon dots, yaitu material nano fluoresen yang dikembangkan sebagai penanda untuk membantu mendeteksi keaslian batik. Teknologi ini diharapkan dapat membantu membedakan batik asli dengan produk tiruan.
Kelima inovasi tersebut, lanjutnya, telah dikembangkan dan dimanfaatkan masyarakat, khususnya di Pekalongan. BRIN juga berupaya memperluas penerapannya ke daerah lain seiring berkembangnya sentra produksi batik di berbagai wilayah Indonesia.
Menurutnya, industri batik tidak hanya berkembang di Pekalongan, tetapi juga di berbagai kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bogor, hingga Padang. Karena itu, perluasan pemanfaatan hasil riset menjadi salah satu upaya agar manfaat inovasi dapat dirasakan lebih banyak pelaku usaha.
Kunjungan BRIN ke Kauman Batik Art Festival juga menjadi kesempatan untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan pengembangan riset. BRIN mendorong para perajin dan pelaku usaha batik menyampaikan persoalan yang mereka hadapi selama proses produksi, mulai dari kebutuhan material hingga pengolahan limbah.
Masukan tersebut dapat menjadi dasar penyusunan topik riset berikutnya sehingga inovasi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri.
“Kami justru senang kalau masyarakat datang ke BRIN memberikan tugas. Tugas BRIN adalah melayani masyarakat dengan teknologi baru,” katanya.
Melalui kolaborasi tersebut, BRIN berharap riset dan inovasi tidak berhenti pada tahap pengembangan, tetapi dapat diterapkan secara luas untuk mendukung produktivitas, kualitas, dan keberlanjutan industri batik nasional. (*fa)

Komentar
Posting Komentar