Belum lama ini, laman media sosial dipenuhi dengan video orang-orang asyik menghias buku dengan stiker, potongan kertas, tiket, hingga foto polaroid. Sekilas memang terlihat seperti menempel berbagai benda bekas di atas kertas. Namun, ternyata ada alasan mengapa banyak orang mulai menggemari aktivitas yang dikenal sebagai junk journaling ini, terutama oleh anak muda.
Pada dasarnya, junk journal adalah buku buatan tangan yang dibuat menggunakan bahan daur ulang, bahan bekas, atau bahan yang dimanfaatkan kembali. Berdasarkan kata junk, yang memiliki arti sampah, junk journaling berarti memanfaatkan sampah dan mengumpulkannya dalam sebuah jurnal. Seperti kertas kemasan, struk belanja, kartu pos, atau sobekan majalah. Berbeda dengan buku harian biasa, aktivitas ini tidak memiliki aturan baku. Setiap halaman menjadi ruang bebas untuk berkreasi dan mengekspresikan diri sesuai imajinasi masing-masing. Layaknya kotak kenangan, junk journal membantu menyimpan memori spesial melalui karya cantik yang dibuat sendiri.
Journalling sendiri merupakan salah satu cara menghabiskan waktu luang tanpa mengeluarkan banyak energi. Selain melatih kreativitas, junk journaling juga dapat menjadi cara sederhana untuk menenangkan pikiran. Psikolog James W. Pennebaker, melalui penelitiannya tentang expressive writing, menjelaskan bahwa menulis dapat membantu seseorang mengelola emosi dan mengurangi tekanan psikologis. Tak heran jika banyak orang menjadikan junk journaling sebagai waktu untuk berhenti sejenak dari kesibukan, menikmati proses, dan lebih mengenal diri sendiri.
Popularitas junk journaling tak lepas dari pengaruh TikTok, Instagram, dan Pinterest yang dipenuhi konten journal with me. Banyak orang awalnya tertarik karena tampilannya yang estetik dan mudah ditiru. Namun, tidak sedikit yang akhirnya menyadari bahwa kegiatan ini lebih dari sekadar mengikuti tren. Proses memilih warna, menyusun potongan kertas, dan menulis cerita singkat justru memberikan rasa puas tersendiri.
Dari potongan-potongan sederhana itu, junk journaling membuktikan bahwa sebuah tren bisa menjadi ruang untuk berekspresi sekaligus menjaga kesehatan mental di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga merupakan salah satu cara untuk menghargai barang-barang kecil yang kita pakai setiap harinya. Melalui junk journaling, benda-benda sederhana berubah menjadi cerita yang dapat dikenang kembali kapan saja. (Desi)
Penulis: Desi Rahmawati Agustin
Foto by: @maya_almira
Komentar
Posting Komentar